Senin, 20 Mei 2013

My Beloved Friends


          Namaku Abelia Putri Lestari. Aku biasa dipanggil Abel . Aku baru saja melewati Masa Orientasi Siswa di SMA Harapan Baru. Kini aku telah resmi menjadi siswa disini. Aku juga mendapatkan teman-teman baru. Kini aku berada di kelas X-2. Di kelasku hanya terdapat 23 siswa. Jumlah siswa di sini paling sedikit dari kelas-kelas yang lainnya.
          Satu bulan kemudian, ada anak baru yang memasuki kelasku. Awalnya kami tidak mengetahui mengapa ada orang asing yang memasuki kelasku dengan menggunakan baju bebas. Tak lama kemudian bapak Kepala Sekolah memberitahu kepada kita jika ada anak baru yang akan belajar bersama di kelasku. Dia adalah Adelia Clarissa. Dia adalah murid baru yang berasal dari Jakarta. Ia berpindah sekolah di Malang karena ia harus mengikuti ayahnya. Dia berpawakan tinggi dan sedikit gendut. Ia adalah anak dari direktur utama di sebuah perusahaan besar di Indonesia.

          Awalnya aku dan teman-temanku mengira bahwa ia adalah anak yang sombong dan tidak mau bermain dengan kita. Ternyata ia bukanlah tipe orang yang seperti itu. Aku dan teman-teman kelasku berusaha untuk berbuat baik dengannya agar ia senang berada di kelasku. Lama-kelamaan, kita menjadi akrab dan sangat kompak. Hari demi hari kita lalui bersama. Kini aku dan Adel menjadi sahabat. Kami selalu bersama dimanapun kami berada. Aku selalu curhat kepada Adel tentang apapun yang ingin kukatakan. Begitu juga dengan Adel, ia juga selalu mencurahkan seluruh isi hatinya kepadaku. sampai-sampai teman kelasku ada yang mengatakan bahwa kita adalah kembar siam yang tidak dapat dipisahkan.
          Sampai suatu hari, aku sedang duduk di kursi taman sekolah karena waktu menunjukkan untuk istirahat. Disini aku sedang membaca novel sambil menunggu Adel yang sedang membeli kue di kantin. Kali ini aku tidak berbarengan dengannya karena aku sedang malas untuk beraktivitas. Tiga menit kemudian, Adel menghampiriku dan menepuk pundakku dari belakang. Adelpun berhasil untuk mengagetkanku. Ia menghampiriku dengan wajah yang ceria.
          “Del, lagi-lagi kamu mengagetiku”, seru Abel.
          “Ahahaha… Makanya kalau lagi istirahat itu jangan bengong aja! Kamu lagi ngelamun ya? Ngelamunin siapa nih? Eciyeee…. Cerita dong!!”, respon Adel.
          “Ih, kamu apaan sih Del. Udah bikin jantungku mau copot, nggak minta maaf lagi”, jawab Abel sambil cemberut.
          “Iya, iya. Aku minta maaf yaa… Lagian kamu sih, pake acara ngelamun!”, kata Adel. “Bel, gue pengen cerita nih sama kamu boleh nggak?”, seru Adel tanpa memberi waktu Abel untuk berbicara.
          “Cerita apa Del? Jarang-jarang kamu tanya aku dulu sebelum kamu mau curhat sama aku!”, respon Abel.
          “Iya nih. Eh, aku tadi ketemu sama cowok di kantin. Dia ganteng banget. Aku jadi pengen tau siapa namanya? Kira-kira kamu tau nggak siapa dia?”, cerita Adel.
          “Yah, mana aku tau Del? Kan kamu nggak tunjukin ke aku yang mana orangnya. Gimana sih?”, respon Abel.
          “Oh iya. nanti aja deh kalo ketemu orangnya aku bakal beritau kamu. Ehehehe….”, kata Adel.
          “Ihh, dasar. Gini ini deh, kalau ada orang yang lagi nemuin apa yang dia suka. Jadi lupa deh. Eh, tapi nanti kalau kamu udah tau siapa orangnya, jangan lupain aku loh!!”, canda Abel.
          “Kamu itu kayak apa aja sih. Tau namanya aja belum, kamu udah bilang begini. Ya udah yuk, kita masuk kelas. Belnya udah manggil-manggil tuh!!”, kata Adel.
***
          Bulan pun berganti. Sekarang telah memasuki bulan September, pada bulan ini Adel akan merayakan ulang tahunnya yang ke 15. Selama ini dia hanya membiarkan Abel penasaran dengan cowok yang Adel taksir. Akhirnya Abel memiliki ide agar ia dan teman-temannya ngerjain Adel sebelum ia ulang tahun karena rencananya tahun depan Adel akan pindah sekolah lagi mengikuti dinas ayahnya.
          Saat bel istirahat berdering . . .
          “Bel, kantin yuk!”, ajak Adel
          “Ih, bentar dong. Guru kita aja belum keluar kelas. Sabar dulu dong!”, jawab Abel.
          “Ayoo… Cepetan. Keburu dianya udah ngilang loh!”, seru Adel tidak sabaran.
          Tiba-tiba Adel cepat-cepat menarik tangan Abel agar ia mau menemaninya ke kantin untuk bertemu cowok yang dia idam-idamkan.
          “Aduh Del. Kamu itu udah nggak beri tau aku cowok mana yang bikin kamu kayak gini, tapi malah maksain aku buat nemenin kamu. Yang mana sih anaknya?”, omel Abel.
          “Iya iya ini aku mau kasih tau ke kamu! Eh Bel, itu dia”, sambil menujuk ke arah cowok yang Adel sukai.
          “yang mana sih Del…..”, gerutu Abel.
          “Yang itu tuhh….”, jawab Adel.
          “Oh dia ternyata yang udah bikin kamu kayak gini.”, respon Abel.
          “Eh kamu tau namanya nggak?”, Tanya Adel.
          “Namanya kalau nggak salah Dicky. Dia kapten basket di sekolah kita”, jelas Abel.
          “nashdbnxmanscdacjvmfv”, gumam Adel.
          Tak terasa jam istirahat pertama telah berakhir. Semua murid yang berada di kantin segera menuju kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
***
          Seminggu sebelum hari kelahiran Adel, Abel dan teman-temannya berencana untuk ngerjain Adel. Mereka semua sibuk merencanakan apa yang akan dilakukan untuk membuat Adel menjadi kebingungan selama seminggu dengan sikap teman-teman sekelasnya yang aneh itu.
***
          Di kelas jam pelajaran sedang kosong karena guru yang harusnya mengajar ditugaskan untuk mengikuti workshop di luar kota. Adel sibuk memainkan handphone Abel, Abel sedang sibuk bermain laptop, begitu juga yang lainnya. Namun, tiba-tiba saja raut muka Adel berubah.
          “Bel, kamu kok jahatin aku sih!”, seru Adel.
          “Jahatin apa Del?”, Tanya Abel.
          “Ternyata selama ini kamu sms-an sama Dicky ya?”, Tanya Adel.
          “Ehh.. Kamu buka sms ku ya?”, Tanya Abel.
          “Iya aku nggak sengaja buka sms dari dia. Terus aku penasaran. Maksud kamu apa sih?”, Tanya Adel.
          Akhirnya terjadi cekcok antara Adel dan Abel. Mereka tidak ingin teman-teman sekelasnya mengetahui permasalahan itu.
          “Kamu kok tega sih sama aku?”, Tanya Adel.
          “Kamu yang tega sama aku!”, bentak Abel.
          “Kan kamu udah tau kalo aku itu suka sama Dicky, tapi kenapa kamu …….”, sela Adel.
          “Kamu yang nggak tau aku Del”, jawab Abel.
          “Nggak tau kamu gimana?”, seru Adel.
          “Aku itu suka sama Dicky sudah lama dan teman-teman juga tau kalo aku suka sama dia. Jadi jangan salahin aku dong”, kata Abel.
          Karena perbincangan mereka yang sangat menegangkan, maka tak terasa suara Adel dan Abel terdengarkan oleh semua teman-teman sekelasnya. Sahabat-sahabat Abel pun mendiamkan Adel. Namun tidak semua dari mereka yang mendiamkan Adel.
***
          Selama hampir satu minggu, Adel hanya terdiam.
Keesokan harinya, murid kelas X-2 merencanakan untuk buka bersama di rumah Danu. Tak lupa mereka juga meminta Adel agar ia dating di acara tersebut.
Adel menepati janjinya untuk dating ke rumah Danu untuk buka bersama.
“Shel, gimana nih, aku nggak enak sama anak-anak”, kata Adel.
“Nggak enak kenapa Del?”, Tanya Sheila.
“Kan kamu tau kalo anak-anak banyak yang ngediemin aku selama seminggu ini”, jawab Adel.
“Oh, yang sabar ya Del. Pasti nanti mereka juga bakal balik kayak dulu lagi”, respon Sheila.
Akhirnya seperti biasa, kelas X-2 melakukan rutinitas mereka yaitu hari mengeluarkan uneg-uneg. Disini mereka berhak berbicara apasaja pada teman-teman agar kekompoakan kelas ini tetap terjaga.
Sekarang saatnya Abel untuk mengeluarkan uneg-uneg.
“Disini aku ingin bicara sama Adel. Del, kamu itu teman yang nggak punya etika ya. Enak aja kamu berlaku sesukamu tanpa memikirkan orang lain. Kamu juga banyak sekali melakukan kesalahan kepada kami semua. Kayaknya kamu juga perlu diajarin gimana caranya untuk menghargai orang lain. Dan aku benci banget sama kamu karena kamu ………………….. nggak bilang kalo hari ini kamu ulang tahun!”. Kata Abel panjang lebar.
Adel pun tersenyum. Semua teman-temannya menjelaskan kepada Adel apa yang terjadi. Jadi mereka hanya ngerjain Adel untuk surprise ulang tahunnya. Adel juga meminta maaf pada teman-temannya jika ia memiliki kesalahan. Abel juga menjelaskan masalah smsnya dengan Dicky itu juga hanya pura-pura untuk ngerjain Adel.
Akhirnya mereka berfoto bersama di tepi kolam renang di rumah Danu. Tak lama setelah berfoto, mereka langsung mendorong Adel ke kolam yang dingin itu.
Mereka pun berteman selamanya sampai akhirnya mereka lulus sekolah. Mereka juga tetap berkomunikasi satu sama lain meskipun kini mereka berada di kota-kota yang berbeda.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar