Namaku Abelia Putri Lestari. Aku biasa
dipanggil Abel . Aku baru saja melewati Masa Orientasi Siswa di SMA Harapan
Baru. Kini aku telah resmi menjadi siswa disini. Aku juga mendapatkan
teman-teman baru. Kini aku berada di kelas X-2. Di kelasku hanya terdapat 23
siswa. Jumlah siswa di sini paling sedikit dari kelas-kelas yang lainnya.
Satu bulan kemudian, ada anak baru
yang memasuki kelasku. Awalnya kami tidak mengetahui mengapa ada orang asing
yang memasuki kelasku dengan menggunakan baju bebas. Tak lama kemudian bapak
Kepala Sekolah memberitahu kepada kita jika ada anak baru yang akan belajar
bersama di kelasku. Dia adalah Adelia Clarissa. Dia adalah murid baru yang
berasal dari Jakarta. Ia berpindah sekolah di Malang karena ia harus mengikuti
ayahnya. Dia berpawakan tinggi dan sedikit gendut. Ia adalah anak dari direktur
utama di sebuah perusahaan besar di Indonesia.
Awalnya aku dan teman-temanku mengira
bahwa ia adalah anak yang sombong dan tidak mau bermain dengan kita. Ternyata
ia bukanlah tipe orang yang seperti itu. Aku dan teman-teman kelasku berusaha
untuk berbuat baik dengannya agar ia senang berada di kelasku. Lama-kelamaan,
kita menjadi akrab dan sangat kompak. Hari demi hari kita lalui bersama. Kini
aku dan Adel menjadi sahabat. Kami selalu bersama dimanapun kami berada. Aku
selalu curhat kepada Adel tentang apapun yang ingin kukatakan. Begitu juga
dengan Adel, ia juga selalu mencurahkan seluruh isi hatinya kepadaku.
sampai-sampai teman kelasku ada yang mengatakan bahwa kita adalah kembar siam
yang tidak dapat dipisahkan.
Sampai suatu hari, aku sedang duduk di
kursi taman sekolah karena waktu menunjukkan untuk istirahat. Disini aku sedang
membaca novel sambil menunggu Adel yang sedang membeli kue di kantin. Kali ini
aku tidak berbarengan dengannya karena aku sedang malas untuk beraktivitas.
Tiga menit kemudian, Adel menghampiriku dan menepuk pundakku dari belakang.
Adelpun berhasil untuk mengagetkanku. Ia menghampiriku dengan wajah yang ceria.
“Del, lagi-lagi kamu mengagetiku”,
seru Abel.
“Ahahaha… Makanya kalau lagi istirahat
itu jangan bengong aja! Kamu lagi ngelamun ya? Ngelamunin siapa nih? Eciyeee….
Cerita dong!!”, respon Adel.
“Ih, kamu apaan sih Del. Udah bikin
jantungku mau copot, nggak minta maaf lagi”, jawab Abel sambil cemberut.
“Iya, iya. Aku minta maaf yaa… Lagian
kamu sih, pake acara ngelamun!”, kata Adel. “Bel, gue pengen cerita nih sama
kamu boleh nggak?”, seru Adel tanpa memberi waktu Abel untuk berbicara.
“Cerita apa Del? Jarang-jarang kamu
tanya aku dulu sebelum kamu mau curhat sama aku!”, respon Abel.
“Iya nih. Eh, aku tadi ketemu sama
cowok di kantin. Dia ganteng banget. Aku jadi pengen tau siapa namanya?
Kira-kira kamu tau nggak siapa dia?”, cerita Adel.
“Yah, mana aku tau Del? Kan kamu nggak
tunjukin ke aku yang mana orangnya. Gimana sih?”, respon Abel.
“Oh iya. nanti aja deh kalo ketemu
orangnya aku bakal beritau kamu. Ehehehe….”, kata Adel.
“Ihh, dasar. Gini ini deh, kalau ada
orang yang lagi nemuin apa yang dia suka. Jadi lupa deh. Eh, tapi nanti kalau
kamu udah tau siapa orangnya, jangan lupain aku loh!!”, canda Abel.
“Kamu itu kayak apa aja sih. Tau
namanya aja belum, kamu udah bilang begini. Ya udah yuk, kita masuk kelas.
Belnya udah manggil-manggil tuh!!”, kata Adel.
***
Bulan pun berganti. Sekarang telah memasuki
bulan September, pada bulan ini Adel akan merayakan ulang tahunnya yang ke 15.
Selama ini dia hanya membiarkan Abel penasaran dengan cowok yang Adel taksir.
Akhirnya Abel memiliki ide agar ia dan teman-temannya ngerjain Adel sebelum ia
ulang tahun karena rencananya tahun depan Adel akan pindah sekolah lagi
mengikuti dinas ayahnya.
Saat bel istirahat berdering . . .
“Bel, kantin yuk!”, ajak Adel
“Ih, bentar dong. Guru kita aja belum
keluar kelas. Sabar dulu dong!”, jawab Abel.
“Ayoo… Cepetan. Keburu dianya udah
ngilang loh!”, seru Adel tidak sabaran.
Tiba-tiba Adel cepat-cepat menarik
tangan Abel agar ia mau menemaninya ke kantin untuk bertemu cowok yang dia
idam-idamkan.
“Aduh Del. Kamu itu udah nggak beri
tau aku cowok mana yang bikin kamu kayak gini, tapi malah maksain aku buat
nemenin kamu. Yang mana sih anaknya?”, omel Abel.
“Iya iya ini aku mau kasih tau ke
kamu! Eh Bel, itu dia”, sambil menujuk ke arah cowok yang Adel sukai.
“yang mana sih Del…..”, gerutu Abel.
“Yang itu tuhh….”, jawab Adel.
“Oh dia ternyata yang udah bikin kamu
kayak gini.”, respon Abel.
“Eh kamu tau namanya nggak?”, Tanya
Adel.
“Namanya kalau nggak salah Dicky. Dia
kapten basket di sekolah kita”, jelas Abel.
“nashdbnxmanscdacjvmfv”, gumam Adel.
Tak terasa jam istirahat pertama telah
berakhir. Semua murid yang berada di kantin segera menuju kelas masing-masing
untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
***
Seminggu sebelum hari kelahiran Adel,
Abel dan teman-temannya berencana untuk ngerjain Adel. Mereka semua sibuk
merencanakan apa yang akan dilakukan untuk membuat Adel menjadi kebingungan
selama seminggu dengan sikap teman-teman sekelasnya yang aneh itu.
***
Di kelas jam pelajaran sedang kosong
karena guru yang harusnya mengajar ditugaskan untuk mengikuti workshop di luar
kota. Adel sibuk memainkan handphone Abel, Abel sedang sibuk bermain laptop,
begitu juga yang lainnya. Namun, tiba-tiba saja raut muka Adel berubah.
“Bel, kamu kok jahatin aku sih!”, seru
Adel.
“Jahatin apa Del?”, Tanya Abel.
“Ternyata selama ini kamu sms-an sama
Dicky ya?”, Tanya Adel.
“Ehh.. Kamu buka sms ku ya?”, Tanya
Abel.
“Iya aku nggak sengaja buka sms dari
dia. Terus aku penasaran. Maksud kamu apa sih?”, Tanya Adel.
Akhirnya terjadi cekcok antara Adel
dan Abel. Mereka tidak ingin teman-teman sekelasnya mengetahui permasalahan
itu.
“Kamu kok tega sih sama aku?”, Tanya
Adel.
“Kamu yang tega sama aku!”, bentak
Abel.
“Kan kamu udah tau kalo aku itu suka
sama Dicky, tapi kenapa kamu …….”, sela Adel.
“Kamu yang nggak tau aku Del”, jawab
Abel.
“Nggak tau kamu gimana?”, seru Adel.
“Aku itu suka sama Dicky sudah lama
dan teman-teman juga tau kalo aku suka sama dia. Jadi jangan salahin aku dong”,
kata Abel.
Karena perbincangan mereka yang sangat
menegangkan, maka tak terasa suara Adel dan Abel terdengarkan oleh semua
teman-teman sekelasnya. Sahabat-sahabat Abel pun mendiamkan Adel. Namun tidak
semua dari mereka yang mendiamkan Adel.
***
Selama hampir satu minggu, Adel hanya
terdiam.
Keesokan
harinya, murid kelas X-2 merencanakan untuk buka bersama di rumah Danu. Tak
lupa mereka juga meminta Adel agar ia dating di acara tersebut.
Adel
menepati janjinya untuk dating ke rumah Danu untuk buka bersama.
“Shel,
gimana nih, aku nggak enak sama anak-anak”, kata Adel.
“Nggak
enak kenapa Del?”, Tanya Sheila.
“Kan
kamu tau kalo anak-anak banyak yang ngediemin aku selama seminggu ini”, jawab
Adel.
“Oh,
yang sabar ya Del. Pasti nanti mereka juga bakal balik kayak dulu lagi”, respon
Sheila.
Akhirnya
seperti biasa, kelas X-2 melakukan rutinitas mereka yaitu hari mengeluarkan
uneg-uneg. Disini mereka berhak berbicara apasaja pada teman-teman agar
kekompoakan kelas ini tetap terjaga.
Sekarang
saatnya Abel untuk mengeluarkan uneg-uneg.
“Disini
aku ingin bicara sama Adel. Del, kamu itu teman yang nggak punya etika ya. Enak
aja kamu berlaku sesukamu tanpa memikirkan orang lain. Kamu juga banyak sekali
melakukan kesalahan kepada kami semua. Kayaknya kamu juga perlu diajarin gimana
caranya untuk menghargai orang lain. Dan aku benci banget sama kamu karena kamu
………………….. nggak bilang kalo hari ini kamu ulang tahun!”. Kata Abel panjang
lebar.
Adel
pun tersenyum. Semua teman-temannya menjelaskan kepada Adel apa yang terjadi.
Jadi mereka hanya ngerjain Adel untuk surprise ulang tahunnya. Adel juga meminta
maaf pada teman-temannya jika ia memiliki kesalahan. Abel juga menjelaskan
masalah smsnya dengan Dicky itu juga hanya pura-pura untuk ngerjain Adel.
Akhirnya
mereka berfoto bersama di tepi kolam renang di rumah Danu. Tak lama setelah
berfoto, mereka langsung mendorong Adel ke kolam yang dingin itu.
Mereka
pun berteman selamanya sampai akhirnya mereka lulus sekolah. Mereka juga tetap
berkomunikasi satu sama lain meskipun kini mereka berada di kota-kota yang
berbeda.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar