Sheila
adalah anak pertama Bapak Suroso. Kini ia duduk di bangku SMA. Ia adalah anak
yang sangat pintar dan patuh kepada orang tuanya. Ia juga merupakan anak yang
jujur. Ia jarang bermain dengan temannya di luar jam sekolah. Meskipun rumah
temannya itu dekat, ia jarang bermain. Jika ia mendapatkan izin dari orang
tuanya, maka ia akan bermain, tapi jika tidak, ia tidak akan bermain. Ia selalu
menjadi bintang kelas. Meskipun ia jarang bermain dengan teman-temannya di luar
sekolah, ia tetap memiliki banyak teman karena ia sangat ramah pada siapapun.
Tidak jauh berbeda dengan Sheila, Daniel adalah anak
kedua dari Bapak Santoso yang kini duduk di bangku SMA juga. Namun, Sheila dan
Daniel berada di sekolah yang berbeda. Ia juga anak yang pintar. Daniel tidak
sepatuh Sheila pada orang tuanya. Daniel kadang berbohong kepada orang tuanya
agar ia dapat bermain bersama dengan teman-temannya. Saat di rumah, ia sangat
manja terutama pada ibunya. Kedekatan keluarga merekalah yang menyebabkan
Sheila dan Daniel saling mengenal.
Sampai suatu hari, kedua keluarga tersebut memiliki suatu
acara khusus. Mereka sangat akrab satu sama lain. Karena selain rekan kerja,
mereka juga bertetangga. Namun, itu semua tidak terjadi pada Sheila dan Daniel.
Saat Sheila dan Daniel bertemu, mereka hanya saling tersenyum. Dan meskipun
mereka saling bersama, tidak terjadi dialog satupun diantara mereka berdua.
Dengan acara khusus tersebut, mereka mulai akrab.
Waktupun berjalan. Sampai suatu hari, handphone Sheila
berdering tanda bahwa terdapat SMS masuk. Sheila segera membuka isi pesan
tersebut. Disana hanyalah tertuliskan kata “Hai”. Ia segera membalas pesan
tersebut untuk menanyakan siapa pengirim pesan itu. Tak lama kemudian, ia
mendapatkan balasannya. Ternyata pengirim SMS tersebut adalah Daniel. Dari
situlah mereka mulai akrab. Namun anehnya, keakraban mereka hanyalah saat di
SMS saja, jika mereka bertatap muka langsung, mereka hanyalah tersenyum dan
tidak menciptakan dialog apapun.
“Bagaimana sih kalian berdua ini, kalau di SMS cerewet
banget, coba aja kalau lagi bertemu, nyapa aja enggak”, kata ibu Daniel.
“Aduh, apaan sih!”, elak Daniel dan Sheila bersamaan.
“Sudah, kalian jalan-jalan saja berdua biar akrabnya
nggak hanya di SMS saja!”, seru ibu Sheila.
“…adfghjkh….gfbv……”, gumam Daniel dan Sheila tidak jelas.
Merekapun setiap hari selalu SMS. Sampai akhirnya mereka
saling memiliki rasa satu sama lain. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang
berani mengungkapkan. Perasaan itu hanya mereka nyatakan dengan SMS saja.
Sudah dua hari belakangan SMS Daniel terdengar sangat
aneh oleh Sheila. Sheila merasakan ada yang berbeda dari Daneil. Pada hari yang
ketiga, Daniel memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya tersebut pada
Sheila. Ia menginginkan Sheila untuk menjadi pacarnya. Sheila yang selama dua
hari merasa aneh dengan Daniel, kini ia mengerti apa maksud Daneil selama dua
hari terakhir ini. Saat membaca SMS dari Daniel, Sheila sangat terkejut. Ia
bingung apa yang harus ia lakukan. Jika ia menerima Daniel sebagai pacarnya, ia
takut dengan orang tuanya. Jika ia menolak Daniel, ia takut Daniel akan marah
padanya, dan tidak mau berteman lagi dengannya. Akhirnya Sheila mengambil
keputusan yang menurutnya itu adalah keputusan yang terbaik untuk dia dan
Daniel. Keputusannya tersebut adalah untuk menolak Daniel menjadi pacarnya.
Namun, ia berusaha untuk menolak dengan halus agar Daniel tidak sakit hati. Ia
juga memberikan alasan-alasan yang menurutnya masuk akal karena ia tidak ingin
Daniel marah padanya.
Setelah Daniel mengetahui jawaban dari Sheila, ia hanya
terdiam. Dia hanya berkata “Ya” kepada Sheila atas jawabannya itu. Dia juga
merasa kecewa karena Sheila telah menolaknya. Lalu mereka jarang sekali SMS,
dan bisa dibilang tidak pernah SMS selama tiga bulan. Sheila merasa bersalah
atas kejadian itu.
Akhirnya, Sheila memulai SMS kepada Daniel. Daniel juga
merespon itu. Awalnya mereka merasa canggung. Danielpun lalu mengajak Sheila
untuk makan bersama di luar rumah. Sheila juga setuju akan hal tersebut.
Ketika mereka bertemu, awalnya mereka merasa canggung.
Namun lama kelamaan, suasana telah mencair dengan percakapan-percakapan
basa-basi mereka.
“Bagaimana kabarmu sekarang Shel?”, tanya Daniel.
“Aku baik-baik saja Niel. Bagaimana dengan kamu?”, respon
Sheila.
“Aku juga baik-baik aja Shel”, jawab Daniel.
Lalu mereka berbincang-bincang. Mereka membicarakan
hal-hal kesukaan mereka. Meskipun Daniel terlihat biasa, namun Sheila masih
merasa canggung. Dan Sheila dengan takut menanyakan suatu hal yang terjadi
diantara mereka berdua tiga bulan yang lalu.
“Niel, aku mau minta maaf sama kamu”, kata Sheila
ragu-ragu.
“Maaf untuk apa Shel?”, tanya Daniel.
“Aku mau minta maaf atas kejadian tiga bulan yang lalu”,
jawab Sheila.
“Hmmm…… Aduh kamu tidak perlu minta maaf padaku karena
kamu tidak bersalah Shel!”, respon Daniel.
“Tapi aku merasa bersalah atas kejadian itu”, kata
Sheila. Lalu ia menceritakan apa yang selama ini ia pikirkan.
“Sudahlah Shel, jangan berlebihan seperti itu. Kamu nggak
usah pikirin hal itu lagi sekarang yaa…”, kata Daniel. “Biarkan itu menjadi
masa lalu kita!”, lanjut Daniel.
“Iya Niel, kamu benar!”, respon Sheila.
Suasana pun menjadi canggung kembali. Namun akhirnya
Sheila berhasil mencairkan suasana itu lagi.
“Niel,
bagaimana kalau kita menjadi sahabat saja!”, ujar Sheila bersemangat. “Soalnya
menurutku seorang sahabat itu akan lebih berarti daripada yang lainnya”, lanjut
Sheila.
“Iya, Shel kamu benar!”, respon Daniel.
Kini merekapun menjadi sahabat sampai sekarang. Kebiasaan
saat bertemu lalu tersenyum dengan tanpa menciptakan dialog apapun kini sudah
berubah. Saat mereka bertemu, mereka tidak hanya tersenyum tetapi juga
menciptakan berbagai dialog dan tertawa bersama.
No
one can go back to start a new beginning, but
Anyone
can start today and make a new ending.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar