Selasa, 16 April 2013

Diam-diam Suka


Sheila adalah anak pertama Bapak Suroso. Kini ia duduk di bangku SMA. Ia adalah anak yang sangat pintar dan patuh kepada orang tuanya. Ia juga merupakan anak yang jujur. Ia jarang bermain dengan temannya di luar jam sekolah. Meskipun rumah temannya itu dekat, ia jarang bermain. Jika ia mendapatkan izin dari orang tuanya, maka ia akan bermain, tapi jika tidak, ia tidak akan bermain. Ia selalu menjadi bintang kelas. Meskipun ia jarang bermain dengan teman-temannya di luar sekolah, ia tetap memiliki banyak teman karena ia sangat ramah pada siapapun.
            Tidak jauh berbeda dengan Sheila, Daniel adalah anak kedua dari Bapak Santoso yang kini duduk di bangku SMA juga. Namun, Sheila dan Daniel berada di sekolah yang berbeda. Ia juga anak yang pintar. Daniel tidak sepatuh Sheila pada orang tuanya. Daniel kadang berbohong kepada orang tuanya agar ia dapat bermain bersama dengan teman-temannya. Saat di rumah, ia sangat manja terutama pada ibunya. Kedekatan keluarga merekalah yang menyebabkan Sheila dan Daniel saling mengenal.
            Sampai suatu hari, kedua keluarga tersebut memiliki suatu acara khusus. Mereka sangat akrab satu sama lain. Karena selain rekan kerja, mereka juga bertetangga. Namun, itu semua tidak terjadi pada Sheila dan Daniel. Saat Sheila dan Daniel bertemu, mereka hanya saling tersenyum. Dan meskipun mereka saling bersama, tidak terjadi dialog satupun diantara mereka berdua. Dengan acara khusus tersebut, mereka mulai akrab.
            Waktupun berjalan. Sampai suatu hari, handphone Sheila berdering tanda bahwa terdapat SMS masuk. Sheila segera membuka isi pesan tersebut. Disana hanyalah tertuliskan kata “Hai”. Ia segera membalas pesan tersebut untuk menanyakan siapa pengirim pesan itu. Tak lama kemudian, ia mendapatkan balasannya. Ternyata pengirim SMS tersebut adalah Daniel. Dari situlah mereka mulai akrab. Namun anehnya, keakraban mereka hanyalah saat di SMS saja, jika mereka bertatap muka langsung, mereka hanyalah tersenyum dan tidak menciptakan dialog apapun.
            “Bagaimana sih kalian berdua ini, kalau di SMS cerewet banget, coba aja kalau lagi bertemu, nyapa aja enggak”, kata ibu Daniel.
            “Aduh, apaan sih!”, elak Daniel dan Sheila bersamaan.
            “Sudah, kalian jalan-jalan saja berdua biar akrabnya nggak hanya di SMS saja!”, seru ibu Sheila.
            “…adfghjkh….gfbv……”, gumam Daniel dan Sheila tidak jelas.
            Merekapun setiap hari selalu SMS. Sampai akhirnya mereka saling memiliki rasa satu sama lain. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang berani mengungkapkan. Perasaan itu hanya mereka nyatakan dengan SMS saja.
            Sudah dua hari belakangan SMS Daniel terdengar sangat aneh oleh Sheila. Sheila merasakan ada yang berbeda dari Daneil. Pada hari yang ketiga, Daniel memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya tersebut pada Sheila. Ia menginginkan Sheila untuk menjadi pacarnya. Sheila yang selama dua hari merasa aneh dengan Daniel, kini ia mengerti apa maksud Daneil selama dua hari terakhir ini. Saat membaca SMS dari Daniel, Sheila sangat terkejut. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Jika ia menerima Daniel sebagai pacarnya, ia takut dengan orang tuanya. Jika ia menolak Daniel, ia takut Daniel akan marah padanya, dan tidak mau berteman lagi dengannya. Akhirnya Sheila mengambil keputusan yang menurutnya itu adalah keputusan yang terbaik untuk dia dan Daniel. Keputusannya tersebut adalah untuk menolak Daniel menjadi pacarnya. Namun, ia berusaha untuk menolak dengan halus agar Daniel tidak sakit hati. Ia juga memberikan alasan-alasan yang menurutnya masuk akal karena ia tidak ingin Daniel marah padanya.
            Setelah Daniel mengetahui jawaban dari Sheila, ia hanya terdiam. Dia hanya berkata “Ya” kepada Sheila atas jawabannya itu. Dia juga merasa kecewa karena Sheila telah menolaknya. Lalu mereka jarang sekali SMS, dan bisa dibilang tidak pernah SMS selama tiga bulan. Sheila merasa bersalah atas kejadian itu.
            Akhirnya, Sheila memulai SMS kepada Daniel. Daniel juga merespon itu. Awalnya mereka merasa canggung. Danielpun lalu mengajak Sheila untuk makan bersama di luar rumah. Sheila juga setuju akan hal tersebut.
            Ketika mereka bertemu, awalnya mereka merasa canggung. Namun lama kelamaan, suasana telah mencair dengan percakapan-percakapan basa-basi mereka.
            “Bagaimana kabarmu sekarang Shel?”, tanya Daniel.
            “Aku baik-baik saja Niel. Bagaimana dengan kamu?”, respon Sheila.
            “Aku juga baik-baik aja Shel”, jawab Daniel.
            Lalu mereka berbincang-bincang. Mereka membicarakan hal-hal kesukaan mereka. Meskipun Daniel terlihat biasa, namun Sheila masih merasa canggung. Dan Sheila dengan takut menanyakan suatu hal yang terjadi diantara mereka berdua tiga bulan yang lalu.
            “Niel, aku mau minta maaf sama kamu”, kata Sheila ragu-ragu.
            “Maaf untuk apa Shel?”, tanya Daniel.
            “Aku mau minta maaf atas kejadian tiga bulan yang lalu”, jawab Sheila.
            “Hmmm…… Aduh kamu tidak perlu minta maaf padaku karena kamu tidak bersalah Shel!”, respon Daniel.
            “Tapi aku merasa bersalah atas kejadian itu”, kata Sheila. Lalu ia menceritakan apa yang selama ini ia pikirkan.
            “Sudahlah Shel, jangan berlebihan seperti itu. Kamu nggak usah pikirin hal itu lagi sekarang yaa…”, kata Daniel. “Biarkan itu menjadi masa lalu kita!”, lanjut Daniel.
            “Iya Niel, kamu benar!”, respon Sheila.
            Suasana pun menjadi canggung kembali. Namun akhirnya Sheila berhasil mencairkan suasana itu lagi.
“Niel, bagaimana kalau kita menjadi sahabat saja!”, ujar Sheila bersemangat. “Soalnya menurutku seorang sahabat itu akan lebih berarti daripada yang lainnya”, lanjut Sheila.
            “Iya, Shel kamu benar!”, respon Daniel.
            Kini merekapun menjadi sahabat sampai sekarang. Kebiasaan saat bertemu lalu tersenyum dengan tanpa menciptakan dialog apapun kini sudah berubah. Saat mereka bertemu, mereka tidak hanya tersenyum tetapi juga menciptakan berbagai dialog dan tertawa bersama.


No one can go back to start a new beginning, but
Anyone can start today and make a new ending.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar